
Menikmati Surga Yang Tersembunyi
Ini hanya sebuah catatan perjalanan. Saat semua orang memperingati hari kemerdekaan dengan upacara, pemecahan rekor, atau menyelenggarakan berbagai macam perlombaan, saya memilih merayakan hari kemerdekaan dengan ikut bersama rombongan Travel Writing Class 2 menyusuri pantai dan goa yang ada di Sawarna.
16 Agustus 2009: Susur Pantai
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 9 jam dari Jakarta lewat jalur Tol Merak dengan rute Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna, kini kami tiba di desa Sawarna. Pagi itu (pukul 05.00) suasana hening desa Sawarna seolah pecah oleh kebisingan rombongan kami yang baru saja tiba. Sebuah jembatan gantung menyambut kedatangan kami menuju penginapan. Diantara dinginnya pagi dan beban berat di pundak, kami sedikit berjibaku menjaga keseimbangan melewati jembatan. Selesai melewati jembatan, kami masih harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai ke penginapan.
Selesai berbagi kamar dan membereskan barang-barang, kami bergegas menuju pantai Ciantir. Tujuannya, menanti sang fajar terbit. Langit yang sedikit terang menandakan pagi, jalanan pasir yang membuat langkah terasa berat, dan rerumputan kering mengantarkan kami menuju pantai. Dari jauh, sayup terdengar suara deburan ombak seolah saling bersahutan. Langkah kaki pun saya percepat, tak sabar sampai disana.
Kelelahan karena berjalan cepat seketika pupus saat tiba di Pantai Ciantir. Sebuah pantai berombak besar terhampar di depan mata. Di kejauhan sebelah sisi kanan tampak sebuah bukit. Sementara, di sisi kirinya tampak beberapa perahu nelayan di bibir pantai.


Puas menikmati mentari terbit, kami berkumpul di saung dan bersiap menyantap sarapan pagi. Berlauk sayur timun tumis, telor dadar goreng, dan kerupuk sarapan pagi itu terasa enak.
Makan pagi selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai berikutnya. Dua buah batu berukuran besar berdiri tegak di hadapan kami. Ini menandakan kami telah sampai di pantai kedua, Pantai Tanjung Layar. Selain dua buah batu berukuran besar, pantai ini juga menyajikan deretan karang di bibir pantai dan karang-karang pemecah ombak tepat di depan batu besar.


Bermain di Pantai Tanjung Layar usai, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Legon Pari. Sepanjang perjalanan menuju Legon Pari, kami mesti sedikit sigap berjalan sebab banyak bebatuan terjal dan ombak besar yang menghadang.

Perjalanan selama kurang lebih satu jam akhirnya berakhir di sebuah pantai berpasir putih dan sepi. Lelah perjalanan terbayar karena kami menemukan spot istirahat yang teduh. Apalagi sebutir kelapa muda yang langsung dipetik dari kebun di belakang pantai oleh penduduk setempat ikut menemani istirahat siang itu. Saya memilih beristirahat di sebuah kapal nelayan yang sedang bersandar. Ditemani semilir angin, akhirnya saya terlelap. Tak lama seorang teman membangunkan karena makan siang sudah tiba.

Istirahat dan makan siang sudah, kami pun pulang. Kali ini jalurnya tak lagi susur pantai, tapi berjalan melewati bukit. Lagi-lagi tenaga ekstra perlu disiapkan melewati jalanan menanjak dan berbatu. Selesai melewati bukit kami mulai masuk ke perkampungan dan melewati sawah. Sekali lagi kami perlu berjuang karena harus berjalan melewati jalan setapak. Salah sedikit, jatuh ke sawah hasilnya. Perjalanan berakhir di jalan setapak persis di samping tempat menginap. Selesai sudah cerita hari itu.
17 Agusuts 2009: Susur Goa
Jam 5 kurang 10 saya sudah bangun. Rencananya, selesai shalat subuh kami akan berburu sunrise lagi. Ada dua pilihan tempat untuk memotret sunrise, di perbukitan atau di pantai, tapi kali ini di pantai Tanjung Layar. Saya memilih ikut ke pantai Tanjung Layar karena masih sedikit penasaran dengan memotret sunrise di pantai.
Pagi itu di pantai Tanjung Layar hanya ada saya dan teman-teman yang ingin memotret sunrise disana, tapi itu tak berlangsung lama. Sebab, saat kami sedang memotret, seorang laki-laki dengan gagahnya berjalan menuju laut sambil membawa ban berukuran besar. sementara di pinggiran pantai tampak seorang lainnya yang sibuk membenarkan benang diantara ban besar. Saya pun tergelitik mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh lelaki yang nekat ke laut itu. Ternyata, mereka adalah para pencari kepiting. Besarnya deburan ombak bukan halangan untuk mereka mencari nafkah demi sebuah kewajiban yang bernama keluarga. Padahal mereka bertaruh nyawa untuk itu sedangkan hasinya belum tentu cukup untuk biaya sehari-hari.
Satu pelajaran hidup saya dapatkan, bersyukur dengan apa yang dimiliki karena untuk hidup saya tak harus melakukan pekerjaan seberat itu.

Selesai memoto sunrise, kami kembali ke penginapan. Bersiap sarapan pagi dan menuju destinasi selanjutnya: susur goa. Goa yang kali ini akan kami susuri adalah goa ikan.
Perjalanan menuju Goa Ikan juga menjadi sensasi tersendiri. Kami harus menapaki jalanan terjal yang menanjak, pinggiran sawah penduduk dan menyebrangi sungai.
Sesampainya di mulut goa, tampak air sedalam pinggang orang dewasa di depan mata. Bermodalkan kamera pocket, senter, dan sendal saya memulai susur goa. Ini adalah ketiga kalinya saya masuk goa. Meski begitu, Goa Ikan terasa lebih menantang karena saya harus melewati air. Rasanya, benar-benar seperti berpetualang! Petualangan kami makin berkesan karena pemandangan stalagtit dan stalagmit cantik didalam goa. Semakin ke dalam saya dan teman-teman menyusuri goa, semakin pekat dan banyak kelelawar di dalamnya. Setelah dirasa cukup jauh, kami memutuskan untuk keluar.
Selesai menyusuri goa, kami pun pulang ke penginapan melewati jalur yang sama seperti saat berangkat. Meski letih, namun senyum manis tersungging di raut wajah saya dan teman-teman. Kami semua menikmati indahnya pemandangan dalam goa, satu anugrah untuk negeri eksotis ini.














