Tuesday, August 25, 2009

Sawarna Odyssey



Menikmati Surga Yang Tersembunyi

Ini hanya sebuah catatan perjalanan. Saat semua orang memperingati hari kemerdekaan dengan upacara, pemecahan rekor, atau menyelenggarakan berbagai macam perlombaan, saya memilih merayakan hari kemerdekaan dengan ikut bersama rombongan Travel Writing Class 2 menyusuri pantai dan goa yang ada di Sawarna.

16 Agustus 2009: Susur Pantai

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 9 jam dari Jakarta lewat jalur Tol Merak dengan rute Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna, kini kami tiba di desa Sawarna. Pagi itu (pukul 05.00) suasana hening desa Sawarna seolah pecah oleh kebisingan rombongan kami yang baru saja tiba. Sebuah jembatan gantung menyambut kedatangan kami menuju penginapan. Diantara dinginnya pagi dan beban berat di pundak, kami sedikit berjibaku menjaga keseimbangan melewati jembatan. Selesai melewati jembatan, kami masih harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai ke penginapan.

Selesai berbagi kamar dan membereskan barang-barang, kami bergegas menuju pantai Ciantir. Tujuannya, menanti sang fajar terbit. Langit yang sedikit terang menandakan pagi, jalanan pasir yang membuat langkah terasa berat, dan rerumputan kering mengantarkan kami menuju pantai. Dari jauh, sayup terdengar suara deburan ombak seolah saling bersahutan. Langkah kaki pun saya percepat, tak sabar sampai disana.

Kelelahan karena berjalan cepat seketika pupus saat tiba di Pantai Ciantir. Sebuah pantai berombak besar terhampar di depan mata. Di kejauhan sebelah sisi kanan tampak sebuah bukit. Sementara, di sisi kirinya tampak beberapa perahu nelayan di bibir pantai.






Puas menikmati mentari terbit, kami berkumpul di saung dan bersiap menyantap sarapan pagi. Berlauk sayur timun tumis, telor dadar goreng, dan kerupuk sarapan pagi itu terasa enak.

Makan pagi selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai berikutnya. Dua buah batu berukuran besar berdiri tegak di hadapan kami. Ini menandakan kami telah sampai di pantai kedua, Pantai Tanjung Layar. Selain dua buah batu berukuran besar, pantai ini juga menyajikan deretan karang di bibir pantai dan karang-karang pemecah ombak tepat di depan batu besar.





Bermain di Pantai Tanjung Layar usai, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Legon Pari. Sepanjang perjalanan menuju Legon Pari, kami mesti sedikit sigap berjalan sebab banyak bebatuan terjal dan ombak besar yang menghadang.



Perjalanan selama kurang lebih satu jam akhirnya berakhir di sebuah pantai berpasir putih dan sepi. Lelah perjalanan terbayar karena kami menemukan spot istirahat yang teduh. Apalagi sebutir kelapa muda yang langsung dipetik dari kebun di belakang pantai oleh penduduk setempat ikut menemani istirahat siang itu. Saya memilih beristirahat di sebuah kapal nelayan yang sedang bersandar. Ditemani semilir angin, akhirnya saya terlelap. Tak lama seorang teman membangunkan karena makan siang sudah tiba.




Istirahat dan makan siang sudah, kami pun pulang. Kali ini jalurnya tak lagi susur pantai, tapi berjalan melewati bukit. Lagi-lagi tenaga ekstra perlu disiapkan melewati jalanan menanjak dan berbatu. Selesai melewati bukit kami mulai masuk ke perkampungan dan melewati sawah. Sekali lagi kami perlu berjuang karena harus berjalan melewati jalan setapak. Salah sedikit, jatuh ke sawah hasilnya. Perjalanan berakhir di jalan setapak persis di samping tempat menginap. Selesai sudah cerita hari itu.

17 Agusuts 2009: Susur Goa

Jam 5 kurang 10 saya sudah bangun. Rencananya, selesai shalat subuh kami akan berburu sunrise lagi. Ada dua pilihan tempat untuk memotret sunrise, di perbukitan atau di pantai, tapi kali ini di pantai Tanjung Layar. Saya memilih ikut ke pantai Tanjung Layar karena masih sedikit penasaran dengan memotret sunrise di pantai.

Pagi itu di pantai Tanjung Layar hanya ada saya dan teman-teman yang ingin memotret sunrise disana, tapi itu tak berlangsung lama. Sebab, saat kami sedang memotret, seorang laki-laki dengan gagahnya berjalan menuju laut sambil membawa ban berukuran besar. sementara di pinggiran pantai tampak seorang lainnya yang sibuk membenarkan benang diantara ban besar. Saya pun tergelitik mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh lelaki yang nekat ke laut itu. Ternyata, mereka adalah para pencari kepiting. Besarnya deburan ombak bukan halangan untuk mereka mencari nafkah demi sebuah kewajiban yang bernama keluarga. Padahal mereka bertaruh nyawa untuk itu sedangkan hasinya belum tentu cukup untuk biaya sehari-hari.
Satu pelajaran hidup saya dapatkan, bersyukur dengan apa yang dimiliki karena untuk hidup saya tak harus melakukan pekerjaan seberat itu.



Selesai memoto sunrise, kami kembali ke penginapan. Bersiap sarapan pagi dan menuju destinasi selanjutnya: susur goa. Goa yang kali ini akan kami susuri adalah goa ikan.
Perjalanan menuju Goa Ikan juga menjadi sensasi tersendiri. Kami harus menapaki jalanan terjal yang menanjak, pinggiran sawah penduduk dan menyebrangi sungai.
Sesampainya di mulut goa, tampak air sedalam pinggang orang dewasa di depan mata. Bermodalkan kamera pocket, senter, dan sendal saya memulai susur goa. Ini adalah ketiga kalinya saya masuk goa. Meski begitu, Goa Ikan terasa lebih menantang karena saya harus melewati air. Rasanya, benar-benar seperti berpetualang! Petualangan kami makin berkesan karena pemandangan stalagtit dan stalagmit cantik didalam goa. Semakin ke dalam saya dan teman-teman menyusuri goa, semakin pekat dan banyak kelelawar di dalamnya. Setelah dirasa cukup jauh, kami memutuskan untuk keluar.
Selesai menyusuri goa, kami pun pulang ke penginapan melewati jalur yang sama seperti saat berangkat. Meski letih, namun senyum manis tersungging di raut wajah saya dan teman-teman. Kami semua menikmati indahnya pemandangan dalam goa, satu anugrah untuk negeri eksotis ini.

Thursday, August 06, 2009

Au Revoir, Mbah Surip

Mbah Surip. Nama yang satu ini dua bulan belakangan bisa di dengar atau dilihat dimana-mana. Berkat sebuah lagu dengan lirik yang jenaka, 'Tak Gendong', Mbah Surip langsung melejit bagai roket.

Saya sendiri tahu tokoh nyentrik satu ini untuk pertama kali sewaktu nonton acara milik Emha Ainun Najib, Kenduri Cinta, di Taman Ismail Marzuki (TIM) dua tahun lalu. Waktu rehat acara Kenduri Cinta biasanya diisi oleh siapaun yang mau tampil. Boleh orasi atau nyanyi. Yang saya ingat dari saat rehat acara waktu itu Mbah Surip tampil bareng Bertha (yang dikenal sebagai juri di acara kotes musik di sebuah stasiun tv). Pertama kali melihat Mbah Surip jujur saya mengerutkan dahi sambil berkata dalam hati: "aneh ini orang. Apa dia enggak waras ya?" Kenapa saya bisa punya pemikiran seperti itu? karena belum mulai bernyanyi saja Mbah Surip sudah tertawa terbaha-bahak persis seperti yang bisa dilihat di tv. Tapi dari penjelasan teman saya teryata Mbah Surip itu memang begitu tingkahnya. Saya juga ingat, waktu itu Mbah Surip berduet bersama Bertha menyanyikan lagu 'Tak Gendong'. Selesai nyanyi si Mbah yang berrambut gimbal ini tertawa terbaha-bahak, begitu juga dengan Bertha. Tapi sewaktu Bertha berhenti tertawa Mbah Surip ternyata masih terus tertawa. Bertha memintanya berhenti tertawa tapi Mbah Surip masih asyik tertawa. Akhirnya, semua penonton ikutan tertawa terbahak-bahak. Kejadian itu berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 3 menit. Di acara Kenduri Cinta saat itu Mbah Suri menyanyikan tiga lagu: 'Tak Gendong', 'Bangun Tidur', dan 'Mak Erot'. Pastinya lagu-lagu itu cukup singkat dengan lirik yang lucu. Selesai nyanyi Mbah Surip tertawa ala dia dan diakhiri dengan teriakan I LOVE YOU FULL nya yang sekarang jadi tersohor.

Ternyata semua tentang Mbah Surip kini tinggal kenangan. Mbah Surip menutup mata untuk bermimpi yang lebih indah lagi di hari Selasa, 4 Agustus 2009. Saya dan seluruh masyarakat Indonesia kini tingal bisa mengenang dan belajar banyak dari sosok yang sederhana dan bersahaja.

Selamat Jalan, Mbah. Semua kata-kata I Love You Full bisa kita maknai lebih dalam lagi untuk bangsa ini.

Au Revoir!

Tuesday, June 09, 2009

'Home', Riwayat Bumi Dari Dulu Hingga Kini

(Mungkin) saya adalah salah satu orang yang beruntung karena mendapatkan kesempatan menonton film berjudul 'Home'. Kisahnya tentang proses terjadinya bumi sampai kondisi bumi saat ini. Perlu waktu jutaan tahun sampai akhirnya bumi bisa terbentuk lengkap dengan segala keindahannya. Tapi cuma perlu waktu yang sangat singkat untuk merusaknya. Dalam film itu mengambil contoh China dan Jepang. 'Cuma' perlu waktu 40 tahun untuk mengubah wajah satu wilayah jadi lebih modern sekaligus merusak lingkungan disana.

Lewat film 'Home' saya jadi makin sadar, sekecil apapun tindakan yang saya lakukan untuk bumi ini, ternyata ikut punya andil juga, loh! Apalagi kalau semua manusia yang tinggal di bumi ini juga ikut melakukan tindakan-tindakan penyelamatan bumi. Ya, seharusnya kita sadar, seperti dalam tagline sebuah iklan tentang usaha penyelamatan bumi yang sudah agak lama juga saya lihat, bunyinya: 'bumi adalah warisan untuk anak cucu, bukan pinjaman untuk mereka' (kira-kira seperti itu kata-katanya).

foto-foto yang ada dibawah ini adalah gambar yang bisa dilihat dalam film 'Home'. Cantik-cantik fotonya, tapi enggak terbayang nantinya kalau kita enggak mau bergerak menjaga bumi. Masihkah tempat ini cantik seperti sekarang?



Great Barrier Reef, Queensland, Australia




Palm Spring, California




Grand Prismatic Stone, Yellowstone National Park




carava of dromedaries, Mauritania




Iguazu Falls, Argentina


(sayangnya foto kecantikan Indonesia dalam CD yang diberikan oleh pihak pengundang tidak ada. Kalau ada, pasti akan saya taruh dibagian paling atas :))

Sunday, May 31, 2009

They Are Enjoying Jakarta With Their Own Way

Jakarta punya program Car Free Day (CFD) yang biasanya ada di minggu ke-empat akhir bulan. Saat Car Free Day biasanya semua kendaraan baik pribadi maupun umum -kecuali TJ- tidak boleh lewat dukuh atas sampai monas. Tadinya saya dan beberapa teman berencana ikut hadir di CFD bulan Mei 2009, tapi ternyata satu persatu mereka membatalkan diri. Buat saya, sendiri atau bersama teman bukan masalah, toh saya juga sering kemana-mana sendiri tanpa teman. Lebih enak malah. Singkat cerita, jam setengah delapan saya sudah sampai di Bunderan Hotel Indonesia. Sebenarnya saya ada liputan hari itu, tadinya saya pikir liputannya di Monas, ternyata sesampainya si Bunderan HI saya justru mendengar dari duo MC suatu acara kalau acara yang saya liput ternyata sedang berlangsung disana. Ya, kebetulan. Begitu turun dari TJ saya langsung bergegas menuruni jembatan penyebrangan dan mulai memotret aktifitas anal-anak SMA yang ikut kampanye anti tembakau dan rokok. Selesai memotret saya terus asyik berjalan melihat aktifitas di Bunderan HI. Bunderan HI kemarin sangat ramai, terlalu ramai malahan. Saya agak kurang suka dengan suasana yang terlalu ramai, bikin pusing.

Sambil menenteng aa' anon (nama kamera dslr saya) saya asyik memotret dan melihat aktifitas di sepanjang jalan MH. Thamrin. Kalau saya boleh menduga, rasanya semua warga Jakarta yang ada disana begitu menikmati suasana jalanan Jakarta yang lenggang. Setiap jengkalnya pasti diisi dengan beragam aktifitas. Kebanyakan sih, yang berhubungan dengan sepeda. Ada komunitas sepeda oonthel yang lengkap dengan pakaian-pakaian uniknya, ada anak abg dengan sepeda low ridernya, termasuk komunitas bike to work dengan sepeda lipatnya. Belum lagi sebuah pertandingan sepeda ekstrem atau permainan kegemaran banyak orang, sepak bola mini.


Saya sendiri meskipun agak pusing dengan suasana yang terlalu ramai juga tak kalah menikmati kelengganggan Jakarta yang hanya beberapa saat. Ini sedikit rekaman saya dan aa' anon meninkmati CFD di bulan Mei, kamrin.

Enjoy Jakarta on CFD




jalan-jalan bareng anjing kesayangan ditengah jalan jantungnya Jakarta, silahkan






sepeda kayak gini jarang-jarang kan diliat ada di Bunderan HI kalo hari biasa






barisan sepeda low rider






barisan pejuang negeri. Merdeka!






biar kata pake lurik dan sepeda onthel yang mengingatkan akan Jogja, tapi ini di CFD Jakarta, loh!






reporter TV One pun mencari berita di CFD







extreme sport di CFD







giliran yang bikin cerita yang fotoan di depan Bunderan HI

Monday, April 13, 2009

yang terlewatkan

lama tak menyentuh blog ini, ada sepenggal dosa terukir. seharusnya tempat ini jadi curhatan semua cerita yang dilalui setiap harinya. Entah mungkin benar-benar terlalu sibuk atau malas untuk berpikir panjang, akhirnya blog ini sedikit terbengkalai. Atau mungkin juga karena banyak alternatif lain yang bisa dijadikan pilihan untuk bercerita. Misalnya saja plurk, sang microblogging. Selain lebih simple, terasa lebih seru karena bisa langsung dikomentari teman-teman. Well, itulah perkembangan teknologi, selalu ada yang baru, selalu harus ada yang ditinggalkan. Tapi saya mau berjanji, minimal satu tulisan setiap bulannya untuk blog tercinta ini :).

Wednesday, February 11, 2009

Terima Kasih Tuhan

Tadi pagi saat melangkahkan kaki ke kantor, saya melihat seekor kucing kampung tersedak. Tampangnya kasian. Saya mau menolongnya juga bingung, karena nggak tahu harus bebuat apa. Setelah melihat kejadian itu saya jadi bergumam dalam diri sendiri, bersyukurlah saya ini manusia, saat saya tersedak, saya tahu harus berbuat apa. Kalau misalnya tersedaknya cukup parah, ada orang-orang disekitar saya (entah teman atau keluarga) yang tentunya peduli pada saya. Entah saya diberi minum, diusap, atau mungkin langsung dibawa ke rumah sakit. Kasian kucing kampung itu, nggak punya siapa-siapa yang bisa menolongnya. Walaupun ada manusia yang melihatnya, manusia itu juga bingung apa yang harus dilakukan (seperti saya, salah nggak yah, saya?). Saya juga jadi teringat sebuah buku yang berkisah tentang kehidupan seekor anjing. Judul bukunya " A Dog's Life." Dari seekor anjing yang punya ibu dan saudara, hingga ia akhirnya jadi sebatang kara meski akhirnya ia bertemu dengan manusia yang menjadikannya sahabat. Ternyata, ada banyak cara Tuhan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kalau kita ini adalah manusia dan sampai detik ini masih diberikan banyak karunia meskipun terkadang kita nggak pernah puas dan selalu merasa kurang dengan karunia itu.

Tuesday, February 03, 2009

Sekarang bandel, Nanti....


Suatu hari sepupu saya bercerita tentang kejadian di sekolahnya. Intinya adalah, karena suatu kasus, akhirnya ia dan beberapa orang temannya beserta orang tua mereka dipanggil oleh pihak sekolah. Saat "disidang", seorang anak laki-laki (sayangnya saya lupa namanya) ditunjuk-tunjuk didepan muka oleh guru BP juga dihadapan murid dan orang tua lainnya. Si guru dengan lantangnya berkata kalau anak laki-laki ini nakalnya bukan main, sering bikin guru kesal dan banyak yang benci pada si anak laki-laki ini dan segudang kata-kata lainnya yang rasanya sih bikin kuping panas dan malu juga karena dimarahi di depan banyak orang.

Weiw, kok guru ini -yang notabene-nya guru BP- malah mencecar si anak laki-laki ini dengan kata-kata seperti itu ya? Apa enggak ada cara yag lebih enak lagi didengar? Mestinya guru itu juga memikirkan perasaan anak dan orang tuanya yang dicecar di depan umum, dong.

Anak remaja, apalagi laki-laki, nakal itu rasanya wajar, yah. Apalagi di usia SMA. Toh nakalnya mereka nakal anak-anak, bukan sampai melakukan tindakan kriminal. Seharusnya sang guru tahu itu.

Let say si anak yang dimarahi habis-habisan di depan umum oleh sang guru ini jadi orang yang sangat sukses (jadi presiden misalnya), bagaimana ya, perasaa si ibu guru ini waktu ngeliatnya?

Mungkin dengan cara begini:
- "wah, dia itu murid saya! Hebat ya!" (tanpa mau menyebutkan kekanakalan dan kesalahannya di masa lalu)
- "itu dulu murid saya, bandel memang. Tapi liat, sekarang jadi orang sukses! (dengan sangat bangganya dan sangat lupa dengan kejadian yang dulu dimana sang guru sempat mempermalukan si anak di depan umum)
- " Itu murid saya, dulu saya pikir dia enggak bakal sukses. Soalnya bandel banget! Eh sekarang sukses. Hebat! (sambil memandang kagum sedikit tak percaya).

Ibu guru, ibu bisa kok ngomong baik-baik, tanpa harus ngomel di depan banyak orang. Dia dan orang tuanya kan punya perasaan, bu. Ibu kayak enggak pernah muda aja, sekali-sekali bandel apalagi waktu SMA wajar kok, bu. Biar punya kenangan di hari nanti loh, bu.